Ya, saya mengaku salah
Peristiwa ini berawal beberapa hari lalu, ketika seorang teman kosan baru meminjam charger blackberry ku…
Pagi itu, sebutlah di mba X, dia meminjam charger aku dengan alasan charger dia masih ada di temannya. Aku pun tanpa berat hati meminjamkannya. Dan siang hari si mba X pun pergi kerja sempat berpamitan pada diriku.
Aku dengan aktifitasku hari itu, duduk seharian di depan laptop, internetan dan jualan online by BB. Tidak ada yang lain, hanya itu.
Sampai malam hari tiba, temanku pulang. Aku tanpa sadar berkata padanya tadi pagi charger BBku ada di mba X, dia pun sontak memintaku untuk meminta lagi charger itu ke mba X.
Memang dipikiran kami image seorang mba X itu sudah terlanjur jelek, dia jorok, suka merokok di kamar mandi kosan dan buang sampah sembarangan, suka mabuk, suka pulang pagi hari dengan dandanan super sexy, dan hari sebelumnya penjaga kosan kami memergoki suara desahan bercinta dari dalam kamarnya, ya saat pacarnya sedang menginap.
Ketika aku meminta balik charger itu….
Aku: mba, chargernya sudah belum?
Mba X: loh, tadi siang kan sudah aku balikin
Aku: pas kapan yah mba? Saya belum terima
Mba X: pas aku mau berangkat kerja, coba deh teteh inget-inget
Dan selanjutnya terjadi sedikit perdebatan yang melibatkan argumen aku yang merasa tidak menerima charger itu dan argumen si mba X yang merasa telah memberikan charger itu.
Teman sekamarku marah, dia percaya padaku bahwa aku tidak pernah menerima charger itu, di dalam pikirannya si mba X lah penjahatnya. Sampai-sampai saking emosinya dari dalam kamar dia berteriak dan menendang bola sepaknya mengenai beberapa barang lalu memukul papan pintu dengan sangat keras….sampai-sampai penjaga kosan naik menghampiri kami dengan mengintip dari tangga
Aku coba menenangkan temanku dan mencoba memberi pengertian pada mba X yang merasa terganggu dan tak enak mendengar keributan yang dibuat temanku ini.
Beberapa menit kemudian, aku terduduk dan melihat si charger yang dari tadi menjadi titik masalah terselip diantara tumpukan charger lainnya…aku kaget, aku shock…temanku juga…dia, detik itu juga langsung menyalahkan aku…sungguh aku tidak ingat ketika dia mengembalikan charger itu…sungguh
Ya, aku akui aku salah, aku malu telah menuduh seseorang
Aku mencoba meminta maaf sama si mba X melalui adiknya yang juga kos di kamar sebelah. Namun sayang, sampai sekarang aku belum bertemu si Mba X, aku ingin bertemu langsung dan meminta maaf.
Saat ini yang aku rasa adalah perasaan bersalah yang besar…dan diperparah oleh sikap temanku yang terus menyudutkan aku, seolah aku penjahat besar yang telah membunuh berpuluh ribu orang.
Aku hanya berpikir…seandainya temanku saat itu bisa mengendalikan emosinya, setidaknya rasa tidak enak itu tak sebesar ini….
Tapi…dalam kondisi ini sekarang aku disudutkan olehnya….
Teman: kamu cerita ke orang-orang tentang masalah ini?
Aku: engga Cuma ke fadli (teman kos) aja di awal yang charger ilang
Teman: oooo, kirain cerita ke orang-orang, kan kamu bbman tuh…
Aku: engga, aku bbman jualan
Teman: oiya lupa, kamu gak akan cerita soalnya masalah ini kan kamu yang salah (dengan nada yang buatku agak meremehkan)
aku sedikit kecewa teman dengan sikapmu....padahal saat ini kau orang terdekatku
Hhhhh…
Aku mengakui kesalahanku dan aku akan meminta maaf….
Buatku, tidak ada salahnya kan seseorang berbuat salah
Aku bisa belajar dari kesalahan yang kuperbuat
Aku mohon jangan menyudutkan aku seolah aku lebih busuk dari pembunuh itu membuatku merasa mulai tidak nyaman denganmu