Saturday, April 21, 2012

ketipu...

Beberapa hari lalu di daerah kantor imigrasi....
perut keroncongan, otak penuh kejaran deadline dari beberapa kerjaan yang belum selesai, dari pagi sampai siang dengan hasil....nomor antrian habis dan harus datang lagi ke esokan hari...what the.....
prosedur menyebalkan...

dengan kesal aku melangkah keluar dari kantor imigrasi dodol yang minggu depan tetap harus ku kunjungi lagi,..ditambah bbm sudah ping!!pong!!ping!!pong!! dan telepon dari nomor yang dari tadi pagi juga gak jelas mau nya apa...solusi kegilaan saat itu yang aku pikir hanya..."isi bensin"makannn...

kebetulan dekat dari kantor imigrasi ada warung nasi timbel, ah...semoga sambelnya pedas yah..aku duduk rapih dan memesan....tidak lama aku duduk, ada seorang nenek tua duduk dihadapanku...ya sangat tua, pakaian rapih, berjilbab dan menenteng sekantong kresek...dia tersenyum, dan aku pun tersenyum, kemudian dengan nafas ngos-ngosan....

"haduh,,nenek capek..."
"kenapa nek?"
"nenek jalan dari caheum"
what..caheum jauh banget kesini, pikirku saat itu.
"wuihh jauh banget nek.."
"iya..tadi naik angkot, bannya kempes, diturunin di tengah jalan, duitnya gak dikembaliin, ini sekarang cuma ada duit segini..nenek mau minum teh manis saja"sambil menunjukan sekeping lima ratus rupiah
"oooo..gitu ya, nenek mau ke mana?"
"mau ke UPI neng, ponakan nenek nungguin disana", apa aku antar dia saja ya sehabis makan pikirku lagi tanpa menghiraukan ganjalan dihati...
"nek, udah makan belum, makan aja, aku yang bayarin"
"oh engga neng, gak usah, nenek minum teh manis aja, tadi udah makan bubur, perut nenek gak kuat makan nasi"lalu dia meneguk teh manisnya
"ooo, begitu ya" sambil merogoh kantong mengeluarkan selembar uang yang lalu kulipat di tangan...
"hmmm nek...ini untuk nenek"
sontak si nenek langsung menyambut tanganku dengan sangat cepat.
"oo..iya neng, makasih"
sambil menghabiskan teh dan memanggil si ibu penjual untuk membayar teh..
"ah bu..sudah gak usah, tehnya sama saya aja"
"oh iya neng, makasih yah"dia lalu pergi sambil tersenyum dan menyisakan setengah gelas teh...

tidak lama...si ibu penjual nasi timbelpun berkata padaku

"ah neng...dia itu emang setiap hari suka ke sini untuk minta duit aja"
"hah??maksudnya"
"iya, dulu saya juga kasihan sama dia, segala nasi, buah, minum juga dikasihin ke dia, tapi ternyata dia dateng tiap hari, ceritanya juga sama dibilangnya diturunin sama angkot"
"jadi nipu dong dia"
"iya, dia maunya dikasih duit aja, kadang tiap hari datang, kadang sehari datang, sehari engga"
"wah bu, kasihan yah dia, dia cari uang nipu orang"...dalam hati...sial ketipu...

masih terlihat dipandanganku, si nenek tadi jalan tertatih menghampiri seorang ibu berjilbab yang berdiri di pinggir jalan...ku perhatikan si ibu tadi mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan diberikan ke nenek kemudian si ibu menepuk punggung si nenek, seperti ungkapan rasa kasihan.

"tuh lihat dia disana minta duit lagi sama orang" si ibu penjual nasi sambil menunjuk si nenek tadi...
aku hanya bisa menjawab "iya bu, kasihan yah dia" lalu meneruskan melahap si nasi timbel dengan sambal pedasnya...

hhhh...ada-ada saja jaman sekarang ini..orang tidak segan melakukan "proyek kasihan" untuk uang..pantas saja, hati aku rasa janggal saat bercakap sama si nenek tadi...
bagaimana tidak, dia bicara dengan bahasa indonesia...bukan dengan bahasa sunda, lalu orang sekitarku alias calo imigrasi yang sama-sama juga makan dan duduk di meja yang sama, sama sekali tidak menuturkan sepatah katapun untuk menunjukan rasa simpati

ahhh...proyek kasihan pake nipu..kena deh :p

Thursday, April 5, 2012

Indonesia Tanah Air Beta

Indonesia tanah air beta…

Aku..satu dari sekian banyak orang yang benar cinta Indonesia

meski ku tidur beralas tanah, berlangit bintang

meski ku mengais butir nasi dalam lumpur

meski ku buang waktu meringis selama 12 tahun

tapi tetap ku berdiri di belakang garis kuning tempat merah putih ku…


Aku…satu juga dari yang benar cinta Indonesia

meski lambaian ringgit menggoda

meski emas negri sebrang dapat melepas dahaga

meski rumahku tak berganti dari dinding kayu…

tapi tetap..aku bangga menyematkan sebuah bendera merah putih kecil pada pintu rumah


Aku..dan kami…tak kalah benar cinta Indonesia

meski harus mengarungi sungai dan berjalan kaki berjam-jam

meski harus duduk pada kursi reyot dalam bangunan yang hampir runtuh

meski ku mengenakan baju bau, lusuh yang tak berkancing

tapi tetap…tiap senin aku dan kami menghormat pada sang saka merah putih


Indonesia tanah air beta…pusaka abadi nan jaya…


Saya…saya mengaku cinta Indonesia

Cukup saja kumis tebal ini memberi senyum

Merekapun langsung bersorak pada senyumku

Cukup saja kupakai satu dari sekian waktu yang ada

Merekapun tak berkutik akan baju kharismaku

cukup saja, asalkan…satu dari indonesia bisa saya dapatkan


Saya…saya juga mengaku sangat cinta Indonesia

Cukup saja lidah bertutur pada pidato

Merekapun tertunduk layak boneka

Cukup saja ku sebar beras dan gula di depan kamera

Merekapun ikut bertepuk tangan bangga

cukup saja, asalkan…untuk Indonesia saya..dia berhasil saya singkirkan


Saya…dan kami..juga mengaku tak kalah cinta Indonesia

Cukup saja berlakon srimulat sesuai skrip

Merekapun dapat juga di gerakan untuk berlakon

Cukup saja berlidah kebas untuk menjilat waktu

Merekapun tak tahu balik modal adalah harga mati

cukup saja, asalkan…saya dan kami aman terlindung di kursi


Ini sedikit gambaran antara aku dan saya,

pemisah antara "benar" dan "mengaku"

disaat keduanya berada pada satu atap yang sama


Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya….Indonesia sejak dulu kala tetap di puja-puja bangsa……

Tuesday, April 3, 2012

untuk dan karena

Senja berganti malam, malam berganti pagi.

Hidup selalu menuntun untuk kita membuat pilihan, karenanya..

Ada ribuan orang diluar sana yang marah karena uang, namun ada juga yang menjadikan marah untuk uang.

Ada ratusan anak kecil di jalanan memelas untuk receh, namun ada juga karena receh dia memelas.

Ada puluhan orang menebar senyum janji untuk status, namun ada juga karena status ia menebar senyum janji.

Ada beberapa orang yang rela menghabisi diri untuk cinta, namun ada juga yang karena cinta dia terjun dari pasupati

hidup bak melakoni sebuah peran yang diambil dari pilihan..yang sewaktu-waktu…ketika waktu berganti peranpun bisa berganti……