Sunday, January 13, 2019

Tepukan Tak Bersambut



Tokk..tokk.. suara hati diketuk
“Bangun lah hati”  kata si otak saat ini, logika yang selalu saja menjadi penyeimbang pada setiap rasa yang dibuat oleh sang hati… “sadar..jangan bodoh!!”  Teriaknya memekik

Tokk… tokk..tokkk ketukan palu semakin saja kuat
“aku terbius akan pesonanya” kata sang Hati sambil mata kosongnya menari, “aku ingin satu, yaitu dia” dan lalu melanjutkan keriangan.

Tokkk… tokkk…  tokkkk… Praaakkkk Tinju otak pada hati
“buta kau jahanam…” “hentikan setiap butir harapan kosongmu itu, kau hanya mematikan tubuh ini” amarah otak tak lagi terbendung, dia jejalkan seluruh pemikiran logika pada si hati “lihat..sadar…siapa yang kau puja? SEMU”

“Tidak…kau salah, ini sejatinya cinta…aku siap berdarah karena nya..aku siap merengek karena nya…aku siap..aku siap” sang Hati pun lantang menantang otak

“Bedebah..lihat mata kosongnya yang banyak kau beri harapan palsu…kamu itu hati bukan? Tak sayangkah pada tangan, kakinya, kepalanya, matanya?? Dia sudah banyak kau beri luka”  si otak sambil erat mengeggam palu ingin segera menghajar sang hati

“aku ini berdansa pada tiap alunan harapan cinta.. langkahku tak mampu berhenti..tak ayalnya logika yang selalu ada pada jengkal saraf mu itu” sambil mulai memelankan langkah tarinya, “lihat indah warnanya, paras sejuknya, cerah senyum simpulnya,  kau bilang itu semu? Tidak!! Itu kau yang buta,  dia nyata depan mata, hanya saja terhalang kaca pembatas yang manusia bentuk.. cintanya telah besar..haruskah ku bunuh diriku hingga dia  kembali beku?” mendadak hatipun bersimpuh mulai meneteskan air mata memohon tepat depan lutut  sang otak…

“Hentikan air mata mu, lihat..lihat..dia sudah penuh luka, matanya sembab menjelang pagi, dadanya sesak ditiap detik cintanya melintas, mulutnya hanya bisa berucap sayang pada cermin, kau ingin buat dia gila? Tak bisa kah kau memainkan melodi cinta yang lain? Jangan kau arahkan pada semu” otak pun geram sambil menarik lengan hati hingga berdiri dan lalu membuka tirai realita

“kau ingin bunuh perlahan?! Paru nya sudah mulai disesaki asap! khayalan mulai bias pada dunia nyata !! menarik senyumpun berat, dia itu sedang kau siksa!” teriak sang otak

Hati pun kaget tertegun memandang realita…”tidak, tidak..ini tidak mungkin…harusnya tarian yang kumainkan…setidaknya..cerita bahagia dapat terukir”

 “mengapa tepukannya tak bersambut”“aku telah salah mencinta pada semu”  
Hati memandang kosong realita seakan tak ikhlas menerima cinta bertepuk tak bersambut

Saturday, January 12, 2019

Lama tak bersua


10 Januari 2019

Lama sekali tak bersua, hampir genap 6 tahun aku tidak memanjakan jari-jari ini bergerak mengetik kata yang muncul dari otak.

6 Tahun dengan segudang rasa, kisah-kisah yang memacu adrenalin, cerita manisnya cinta hingga getirnya rasa kehilangan seseorang yang berharga untuk selamanya.. mama

6 Tahun kupendam itu semua, dan hanya belajar dari ingatan bagaimana kelamnya hidup manusia yang kebanyakan hilang nuraninya, rela menjadi kacung, acuh pada alam, memelihara dengki, Apatis pada realita namun serius pada dunia maya, bahkan rela melacurkan harga diri dan lalu yakin pada berita hoax, semua untuk mahluk bernama “Rupiah”.

6 Tahun himpitan rasa pada pahitnya mengurusi meja hijau, rentenir yang menguras pundi kekayaan keluarga, kebodohan hakiki pada manusia yang mabuk agama

6 Tahun sudah tak bersua hingga segala rasa pun hanya bisa terkubur, kali ini aku ingin sedikit saja memberi nafas pada paru ku yang cukup sesak, bermanja pada kata, bercerita kisah satu-persatu.