Saturday, December 26, 2020

Terima Kasih 2020 dengan pelajaran berharganya = Covid19

27 Desember 2020


Beberapa hari sebelum akhirnya tahun ini ditutup, 2020 mungkin buat sebagian besar manusia di bumi ini, ini tahun yang sangat, sangat, sangat berat, bagaimana tidak, ratusan ribu orang di dunia ini meninggal karena wabah penyakit, jutaan orang terancam kelaparan, kehilangan pekerjaan, manusia seperti terpenjara dalam rumahnya sendiri.

namun buat ku... Tahun 2020

Awalnya memang tahun yang berat, diawali dengan Januari ku yang seperti penuh ambisi, dendam, dan persaingan. Hari-hari berpikir bagaimana agar tidak di serang kubu ini dan itu,...intrik bermain menguras seluruh emosi dan energi. Aku tidak berpikir maju, aku stagnan jalan di tempat, seakan lupa dengan mewujudkan mimpi. februari..maret... kemudian Covid19 datang

Covid19 itu yang selalu mereka sebut di media, si virus penyebar teror mematikan, pemandangan manusia tergeletak tiba-tiba tak bernyawa seakan si virus tak sedikitpun memberi ampun pada pengidapnya. Shock, takut, aku serasa di dalam mimpi, ah bukan...ini di dalam film, film flu, appocalyps, atau film zombie...

PSBB dilakukan, seluruh pergerakan seakan terkekang, kegiatan ekonomi dipaksa berhenti... dunia seolah berjalan lambat, panik memborong bahan makanan kaleng seakan besok seperti halnya film 2012 entah tiba-tiba berakhir di bunker, entah ada di planet lain tanpa bahan makanan. Otak ini selalu terisi ke khawatiran, bagaimana dengan keluarga ku disana, bagaimana dengan gaji anak buah ku, bagaimana bos aku bisa mengatasi masalah keuangan ini.....sepulang dari supermarket membeli persediaan bahan makanan kaleng, hanya membuat diriku merasa semakin bodoh, kartu kredit aku paksa mebiayai sampai limitnya..seakan aku lupa.. ada yang Maha kaya, Maha kuat, Maha besar, Maha penyayang, Maha pelindung...penciptaku..Allah SWT yang mengijinkan si covid19 ini menyebar..Allah SWT yang seharusnya menjadi tempatku bersandar dan berharap

Setiap pagi di awal PSBB memasak jahe untuk staff yang bekerja dengan ku,,,ah tiba-tiba aku menjelma seperti seorang ibu yang menjaga anak-anaknya, tiba-tiba aku menjelma seperti bos yang memiliki usaha ini dan kemudian memutar otak untuk mencari cara bagaimana untuk tetap bertahan dari segi finansial sehingga tak harus ada PHK.

Kondisi covid19 yang kemudian menekan manusia dengan kebutuhan ekonomi yang tak tercukupi, penuh rasa cemas, membuat banyak "Sifat" yang terpendam pun muncul ke permukaan. 
Sakit rasanya ketika tau sebegitu terkenalnya aku layaknya selebrity yang tiap hari tak lepas dari gosip meski beberapa diantaranya benar. Mereka yang awalnya seperti anak-anak yang kujaga tiba-tiba tak jauh bagai perampok di mataku...Aku marah, benci, aku seperti lelah berjuang untuk  mereka yang ternyata menusuk ku dari belakang...saat itu pilihan ku adalah... aku ingin pergi dari sini, meninggalkan mereka, dan membiarkan semua bangkut, kehilangan pekerjaan..

tapi... 

ego ini harus ditekan karena keluarga ku butuh dorongan finansial setiap bulannya dan yang paling penting tidak semua dari mereka itu jahat... aku masih memiliki orang yang setia tulus memberi semangat pada ku, meluruskan segala pikiran negatifku... memberiku alasan untuk tetap berjuang

aku seperti melihat secercah cahaya harapan di tengah gelap karena covid19.. kami saling menguatkan, hingga pikiranku pun mulai melihat covid19 dari sisi lain... 

covid19.. dimana berawal pasti ada akhirnya...
covid19.. diijinkan oleh penciptaku yang Maha segalanya untuk menyebar... pasti dengan maksud dan tujuan baik
covid19..memberi contoh untuk tidak bergantung dan tidak berharap pada manusia
covid19..memberiku banyak waktu untuk berkarya dan selangkah demi selangkah mewujudkan mimpi..
covid19..aku yang tidak terbiasa rindu rumah... sungguh menjadi rindu yang sering membludak hingga meneteskan air mata, komunikasi dengan keluarga meski dari jauh pun terasa lebih intim.
covid19..aku bisa membedakan mana kawan..mana lawan..mana yang tulus.. mana yang palsu...dan bagaimana aku menyikapi kepalsuan yang datang
covid19..keprofessionalanku pun di uji.. rasa kemanusiaan dijadikan lebih besar dari ego dalam diri.. karena nya.. aku harus lebih pandai dan bijak dalam memimpin dan kemudian mengajak mereka meski sudah pernah menyakiti tapi tetap dirangkul untuk sama-sama berjuang.
covid19..mengajarkan ku banyak hal... termasuk ketika sebagian besar temanku lainnya WFH.. aku masih tetap bertarung dengan kondisi untuk membuat sisi finansial usaha yang ditangani oleh ku bisa bertahan dan kemudian bangkit.. 
covid19...mengajarkanku.. bahwa... rejeki manusia sudah ada yang atur...yakin jika Allah tidak akan membiarkan yang sudah pontang panting bekerja terhimpit dalam kondisi kelaparan...

ah... banyak hal lainnya, sungguh aku bersyukur dengan kondisi covid19 ini... Alhamdulillah

Terima kasih buat kamu yang tak lelah memberi semangat, dukungan dan kepercayaan
Terima kasih buat covid19
Terima kasih 2020

Sungguh manusia hanya bisa berencana... Aku mengerjakan langkah-langkah yang ku bisa untuk mewujudkan mimpi ku... sederhana saja... mimpi untuk bisa membuka banyak lapangan kerja....sisanya.. biarlah Allah SWT mengerjakan bagiannya


Tuesday, December 15, 2020

Malam untuk Peri Kecil ku

 Peri Kecil...

Sebutku untukmu
Wanita dengan wajah teduh
Yang tak lelah mengisi otak ku

Rona merah di pipi yang bening itu
Selalu berhasil menarik senyumku
Entah sudah jutaan detik
Hatiku selalu berbisik

Aku cinta
Aku sayang
Aku butuh

Entah sudah ribuan hari
mataku selalu berseri

Aku senang
Aku damai
Aku tenang

Peri kecil...
Dalam tatapku selalu terselip pesan
Tanpa harus dunia tau
Kau selalu jadi bahagiaku

14 Desember 2020

Saturday, December 12, 2020

Coklat itu, Permen itu dan Pesan itu

 



Aku pernah terluka

terasa hidup berjalan tanpa makna

tanyaku selalu seakan ragu adil Tuhan

rasaku hanya sembunyi di bayangan

salahkah takdirku...


hingga tiba saat itu


ruang dan waktu menjawab

dalam kisahku yang sederhana

hadirmu layaknya cahaya 

sadarkanku yang mulai redup

mengangkatku dengan sejuta mimpi

saling menopang, saling menguatkan

ceritaku kemudian mengikuti garis hidup

mencapai mimpi bersamamu

biarlah semesta menjadi saksi

bahwa aku mencintaimu

bahwa pada coklat itu... permen itu...pesan itu

tertuang jejak kisah kita


12 Desember 2020





Wednesday, June 10, 2020

Pertemuan Pertama

Aku... 
Pujangga cinta yang percaya pada takdir...
Tuhan apakah takdirku selalu pada hidup yang ketir? 

Hari-hari berlanjut di atas kartu tarot
Tiap bulan mendamba ilusi dengan sangat berat
Aku haus, aku lapar, mana cinta untuk ku?
Ini perih, ini sedih, tak adakah pelipur laraku?

Tuhan... Teriakku parau dengan mulut menganga, terkapar menatap langit

Dan lalu...

Setetes embun sedikit membasahi ujung bibir
Dua, tiga, empat tetesannya berlanjut..
Apakah ini jawab mu Tuhan? 
Sambil ku terus menatap langit, tetesan embun mulai menyamarkan air mataku.. ah ada cahaya...

Cahaya kecil diujung sana..perlahan terbang mendekat... Apakah kau penuang embun itu?
Tuhan ini kah jawab mu?

Peri kecil.. aku sebutmu itu... 
Terbang mengelilingiku..menyeringai pada awalnya..terkadang terbang sambil melempar senyum sinis... Seolah ragu memberi ku embun...dan berpikir apakah aku pantas diberi embun..

Peri kecil..aku ini haus akan embun mu... 

Aku hanya terdiam menatapmu yang gerik matanya mempelajariku.. 
Aku tak akan menyakitimu... Aku hanya ingin
Menikmati setiap senti indahnya cahayamu

Peri kecil... Pelan-pelan mulai melempar senyum.. sesekali melempar tawa riang padaku... sambil ku elus lembut keningnya

Tuhan.. aku bahagia..
Peri kecil pemberianmu.. 
mulai menerimaku... 

Aku pujangga cinta percaya pada takdir..
Peri kecil kau lah takdir titipan Tuhan padaku..

Sunday, January 13, 2019

Tepukan Tak Bersambut



Tokk..tokk.. suara hati diketuk
“Bangun lah hati”  kata si otak saat ini, logika yang selalu saja menjadi penyeimbang pada setiap rasa yang dibuat oleh sang hati… “sadar..jangan bodoh!!”  Teriaknya memekik

Tokk… tokk..tokkk ketukan palu semakin saja kuat
“aku terbius akan pesonanya” kata sang Hati sambil mata kosongnya menari, “aku ingin satu, yaitu dia” dan lalu melanjutkan keriangan.

Tokkk… tokkk…  tokkkk… Praaakkkk Tinju otak pada hati
“buta kau jahanam…” “hentikan setiap butir harapan kosongmu itu, kau hanya mematikan tubuh ini” amarah otak tak lagi terbendung, dia jejalkan seluruh pemikiran logika pada si hati “lihat..sadar…siapa yang kau puja? SEMU”

“Tidak…kau salah, ini sejatinya cinta…aku siap berdarah karena nya..aku siap merengek karena nya…aku siap..aku siap” sang Hati pun lantang menantang otak

“Bedebah..lihat mata kosongnya yang banyak kau beri harapan palsu…kamu itu hati bukan? Tak sayangkah pada tangan, kakinya, kepalanya, matanya?? Dia sudah banyak kau beri luka”  si otak sambil erat mengeggam palu ingin segera menghajar sang hati

“aku ini berdansa pada tiap alunan harapan cinta.. langkahku tak mampu berhenti..tak ayalnya logika yang selalu ada pada jengkal saraf mu itu” sambil mulai memelankan langkah tarinya, “lihat indah warnanya, paras sejuknya, cerah senyum simpulnya,  kau bilang itu semu? Tidak!! Itu kau yang buta,  dia nyata depan mata, hanya saja terhalang kaca pembatas yang manusia bentuk.. cintanya telah besar..haruskah ku bunuh diriku hingga dia  kembali beku?” mendadak hatipun bersimpuh mulai meneteskan air mata memohon tepat depan lutut  sang otak…

“Hentikan air mata mu, lihat..lihat..dia sudah penuh luka, matanya sembab menjelang pagi, dadanya sesak ditiap detik cintanya melintas, mulutnya hanya bisa berucap sayang pada cermin, kau ingin buat dia gila? Tak bisa kah kau memainkan melodi cinta yang lain? Jangan kau arahkan pada semu” otak pun geram sambil menarik lengan hati hingga berdiri dan lalu membuka tirai realita

“kau ingin bunuh perlahan?! Paru nya sudah mulai disesaki asap! khayalan mulai bias pada dunia nyata !! menarik senyumpun berat, dia itu sedang kau siksa!” teriak sang otak

Hati pun kaget tertegun memandang realita…”tidak, tidak..ini tidak mungkin…harusnya tarian yang kumainkan…setidaknya..cerita bahagia dapat terukir”

 “mengapa tepukannya tak bersambut”“aku telah salah mencinta pada semu”  
Hati memandang kosong realita seakan tak ikhlas menerima cinta bertepuk tak bersambut

Saturday, January 12, 2019

Lama tak bersua


10 Januari 2019

Lama sekali tak bersua, hampir genap 6 tahun aku tidak memanjakan jari-jari ini bergerak mengetik kata yang muncul dari otak.

6 Tahun dengan segudang rasa, kisah-kisah yang memacu adrenalin, cerita manisnya cinta hingga getirnya rasa kehilangan seseorang yang berharga untuk selamanya.. mama

6 Tahun kupendam itu semua, dan hanya belajar dari ingatan bagaimana kelamnya hidup manusia yang kebanyakan hilang nuraninya, rela menjadi kacung, acuh pada alam, memelihara dengki, Apatis pada realita namun serius pada dunia maya, bahkan rela melacurkan harga diri dan lalu yakin pada berita hoax, semua untuk mahluk bernama “Rupiah”.

6 Tahun himpitan rasa pada pahitnya mengurusi meja hijau, rentenir yang menguras pundi kekayaan keluarga, kebodohan hakiki pada manusia yang mabuk agama

6 Tahun sudah tak bersua hingga segala rasa pun hanya bisa terkubur, kali ini aku ingin sedikit saja memberi nafas pada paru ku yang cukup sesak, bermanja pada kata, bercerita kisah satu-persatu.

Thursday, November 21, 2013

Topeng

pasar pagi, pasar siang
ku jual macam-macam topeng

mari kemari saudagar kaya
jangan ragu juga para wanita
lihat-lihat topeng yang terpajang
siap dibeli...siap dipakai...siap  dilelang

wahai wanita hedonis
wahai pria metropolis
ku juga jual topeng terlukis
beragam mengumpat senyum sinis

pasar sore, pasar malam
dari topeng cerah hingga kelam
mari kemari penjaja cinta
jangan ragu juga para buaya
lihat-lihat topeng yang terpajang
dari topeng jadilah uang

wahai wanita tanpa aurat
wahai pria pada kodrat
ku jual juga topeng emas 24 karat
beragam mengumpat ribuan maksiat

topeng..topeng teriak ku jual topeng
tak pakai topeng maka kau seekor celeng
topeng..topeng seru ku jual topeng
tak pakai topeng bagai tak punya tameng