Thursday, May 24, 2012

Memory....pada kisah dua



Jatinangor, Januari ‘09
“story bout u”

Saat aku pertama kalinya memasuki rumah hatimu, kira-kira 9 bulan lalu, decakku tak pernah henti. Rumah hatimu sangat berantakan, serpihan-serpihan tercecer di berbagai sudut bagai kepingan puzzle tanpa bentuk. Kulihat beberapa serpihannya pun bahkan tak utuh, sungguh rumah hati yang terburuk yang pernah kulihat. Aku dekati sang empunya hati…kamu…
Perlahan bahkan sangat pelan aku dekati kamu, aku mencoba sabar dengan tak dianggapnya kehadiranku, aku hanya selalu bisa menyaksikan buliran air matamu turun, matamu slalu sembab, tangismu pun makin terisak, aku bahkan tak pernah peduli dengan aptisnya kamu, dengan sikap sangat hati-hati aku mencoba berjongkok untuk memunguti puzzle-puzzle mungil hatimu, susah payah aku mengumpulkannya, bahkan aku coba membuat utuh satu kepingan puzzle yang sudah retak. Dalam hati & pikiranku, aku mengutuk orang yang telah membuatmu seperti ini, yang telah membuat rumah hatimu tak utuh, yang telah membuat kamu tak mencintai bahkan tak menghargai diri kamu sendiri.
Aku habiskan banyak waktu untuk berkunjung ke rumah hatimu, tak kupedulikan seruan rumah hati lain, aku hanya tertarik dengan rumah hatimu, bahkan aku sangat terbiasa dengan tak pernah dianggapnya kehadiranku oleh kamu. Tekadku Cuma satu, membuat rumah hati kamu kembali utuh, meski aku yakin usahaku tak akan pernah sempurna. Waktu yang kujalani dirumah hatimu tak terasa, kaupun mulau menganggap nyata kehadiranku. Mulai tersenyum padaku, mulai mau berbicara denganku, meskipun tak jarang kau kembali menangis & terpuruk kembali. Tak tahukah kamu? Setiap kali kamu menangis potongan puzzle yang kukumpukan dengan susah payah dengan seluruh waktu yang aku punya juga pikiran yang seluruhnya kukerahkan itu menjadi sia-sia, puzzle-puzzle itu kembali berserakan, seolah air matamu menyampaikan isyarat bahwa usahaku tak akan pernah berhasil. Aku mencoba sabar dengan keadaana ini, walau jarang aku pulang dari rumah hatimu dengan menangis, waktu yang kuhabiskan untukmu ternyata tak ada artinya.
Tetapi entah mengapa setiap aku melangkahkan kaki keluar dari rumah hatimu seolah ada sesuatu yang menariknya kembali, entah kekuatan magnet seperti apa yang kamu miliki.
Kuhitung waktu, bulan kesekian aku telah berhasil mengumpulkan semua kepingan hatimu, kamupun menatapku tersenyum, kamu beranjak dari kesedihanmu, menghampiriku sekedar berucap terima kasih. Aku pun memberanikan diri untuk mengecup lembut pipi kananmu, penuh ketulusan dan rasa sayang aku melakukannya. Bulan berikutnya tampak rumah hatimu mulai rapi, tidak hanya aku yang benahi tapi kamupun ikut membenahinya, letupan emosi gembira terpancar di mata dan senyumku. Rumah hatimu telah rapi, kini kaupun menatapnya senang tak jarang kau menggenggamku, bahkan mengecupku, aku pun begitu, selalu kurentangkan tangan hanya untuk memelukmu, jujur…dengan tulus aku sayang kamu. Rumah hatimu sekarang seperti rumah hati pada umumnya, meski masih terlihat retakan retakan dibeberapa kepingannya. Tapi aku janji, akan membuat hatimu utuh kembali.
Dari awal aku hanya ingin merapihkanmu, tapi kamu malah menyediakan salah satu ruangannya untuk aku singgah, bahkan untuk aku tinggal di dalamnya. Makasih untuk waktu yang telah tercipta
Makasih telah menganggapku ada
Aku sayang kamu….


                                                                                                Dedicated 4 u
                                                                                                With love
                                                                                                -**-

No comments:

Post a Comment