Jatinangor, Januari ‘09
“story bout u”
Saat aku pertama kalinya
memasuki rumah hatimu, kira-kira 9 bulan lalu, decakku tak pernah henti. Rumah
hatimu sangat berantakan, serpihan-serpihan tercecer di berbagai sudut bagai
kepingan puzzle tanpa bentuk. Kulihat beberapa serpihannya pun bahkan tak utuh,
sungguh rumah hati yang terburuk yang pernah kulihat. Aku dekati sang empunya
hati…kamu…
Perlahan bahkan sangat pelan
aku dekati kamu, aku mencoba sabar dengan tak dianggapnya kehadiranku, aku
hanya selalu bisa menyaksikan buliran air matamu turun, matamu slalu sembab,
tangismu pun makin terisak, aku bahkan tak pernah peduli dengan aptisnya kamu,
dengan sikap sangat hati-hati aku mencoba berjongkok untuk memunguti
puzzle-puzzle mungil hatimu, susah payah aku mengumpulkannya, bahkan aku coba
membuat utuh satu kepingan puzzle yang sudah retak. Dalam hati & pikiranku,
aku mengutuk orang yang telah membuatmu seperti ini, yang telah membuat rumah
hatimu tak utuh, yang telah membuat kamu tak mencintai bahkan tak menghargai
diri kamu sendiri.
Aku habiskan banyak waktu
untuk berkunjung ke rumah hatimu, tak kupedulikan seruan rumah hati lain, aku
hanya tertarik dengan rumah hatimu, bahkan aku sangat terbiasa dengan tak
pernah dianggapnya kehadiranku oleh kamu. Tekadku Cuma satu, membuat rumah hati
kamu kembali utuh, meski aku yakin usahaku tak akan pernah sempurna. Waktu yang
kujalani dirumah hatimu tak terasa, kaupun mulau menganggap nyata kehadiranku.
Mulai tersenyum padaku, mulai mau berbicara denganku, meskipun tak jarang kau
kembali menangis & terpuruk kembali. Tak tahukah kamu? Setiap kali kamu
menangis potongan puzzle yang kukumpukan dengan susah payah dengan seluruh
waktu yang aku punya juga pikiran yang seluruhnya kukerahkan itu menjadi
sia-sia, puzzle-puzzle itu kembali berserakan, seolah air matamu menyampaikan
isyarat bahwa usahaku tak akan pernah berhasil. Aku mencoba sabar dengan
keadaana ini, walau jarang aku pulang dari rumah hatimu dengan menangis, waktu
yang kuhabiskan untukmu ternyata tak ada artinya.
Tetapi entah mengapa setiap
aku melangkahkan kaki keluar dari rumah hatimu seolah ada sesuatu yang
menariknya kembali, entah kekuatan magnet seperti apa yang kamu miliki.
Kuhitung waktu, bulan
kesekian aku telah berhasil mengumpulkan semua kepingan hatimu, kamupun
menatapku tersenyum, kamu beranjak dari kesedihanmu, menghampiriku sekedar
berucap terima kasih. Aku pun memberanikan diri untuk mengecup lembut pipi
kananmu, penuh ketulusan dan rasa sayang aku melakukannya. Bulan berikutnya
tampak rumah hatimu mulai rapi, tidak hanya aku yang benahi tapi kamupun ikut
membenahinya, letupan emosi gembira terpancar di mata dan senyumku. Rumah
hatimu telah rapi, kini kaupun menatapnya senang tak jarang kau menggenggamku,
bahkan mengecupku, aku pun begitu, selalu kurentangkan tangan hanya untuk
memelukmu, jujur…dengan tulus aku sayang kamu. Rumah hatimu sekarang seperti
rumah hati pada umumnya, meski masih terlihat retakan retakan dibeberapa
kepingannya. Tapi aku janji, akan membuat hatimu utuh kembali.
Dari awal aku hanya ingin
merapihkanmu, tapi kamu malah menyediakan salah satu ruangannya untuk aku
singgah, bahkan untuk aku tinggal di dalamnya. Makasih untuk waktu yang telah
tercipta
Makasih telah menganggapku
ada
Aku sayang kamu….
Dedicated
4 u
With
love
-**-
No comments:
Post a Comment