Tokk..tokk.. suara hati diketuk
“Bangun lah hati” kata si otak saat ini, logika yang selalu saja
menjadi penyeimbang pada setiap rasa yang dibuat oleh sang hati… “sadar..jangan bodoh!!” Teriaknya memekik
Tokk… tokk..tokkk ketukan palu semakin saja kuat
“aku terbius akan
pesonanya” kata sang Hati sambil mata kosongnya menari, “aku ingin satu, yaitu dia” dan lalu
melanjutkan keriangan.
Tokkk… tokkk… tokkkk…
Praaakkkk Tinju otak pada hati
“buta kau jahanam…”
“hentikan setiap butir harapan kosongmu itu, kau hanya mematikan tubuh ini” amarah
otak tak lagi terbendung, dia jejalkan seluruh pemikiran logika pada si hati “lihat..sadar…siapa yang kau puja? SEMU”
“Tidak…kau salah, ini
sejatinya cinta…aku siap berdarah karena nya..aku siap merengek karena nya…aku
siap..aku siap” sang Hati pun lantang menantang otak
“Bedebah..lihat mata
kosongnya yang banyak kau beri harapan palsu…kamu itu hati bukan? Tak sayangkah
pada tangan, kakinya, kepalanya, matanya?? Dia sudah banyak kau beri luka” si otak sambil erat mengeggam palu ingin
segera menghajar sang hati
“aku ini berdansa pada
tiap alunan harapan cinta.. langkahku tak mampu berhenti..tak ayalnya logika
yang selalu ada pada jengkal saraf mu itu” sambil mulai memelankan langkah
tarinya, “lihat indah warnanya, paras
sejuknya, cerah senyum simpulnya, kau
bilang itu semu? Tidak!! Itu kau yang buta, dia nyata depan mata, hanya saja terhalang kaca
pembatas yang manusia bentuk.. cintanya telah besar..haruskah ku bunuh diriku
hingga dia kembali beku?” mendadak
hatipun bersimpuh mulai meneteskan air mata memohon tepat depan lutut sang otak…
“Hentikan air mata mu,
lihat..lihat..dia sudah penuh luka, matanya sembab menjelang pagi, dadanya
sesak ditiap detik cintanya melintas, mulutnya hanya bisa berucap sayang pada
cermin, kau ingin buat dia gila? Tak bisa kah kau memainkan melodi cinta yang
lain? Jangan kau arahkan pada semu” otak pun geram sambil menarik lengan
hati hingga berdiri dan lalu membuka tirai realita
“kau ingin bunuh
perlahan?! Paru nya sudah mulai disesaki asap! khayalan mulai bias pada dunia
nyata !! menarik senyumpun berat, dia itu sedang kau siksa!” teriak sang
otak
Hati pun kaget tertegun memandang realita…”tidak, tidak..ini tidak mungkin…harusnya
tarian yang kumainkan…setidaknya..cerita bahagia dapat terukir”
“mengapa tepukannya tak bersambut”…“aku telah salah mencinta pada semu”
Hati memandang kosong realita seakan tak
ikhlas menerima cinta bertepuk tak bersambut
No comments:
Post a Comment