Wednesday, January 11, 2012

Kotak Pandora

Pandora..kotak penyimpan kenangan....jika dibuka kau akan merasa sakit..bukan hanya sakit dari kenangan buruk tapi sakit dari kenangan manis.....lucu bukan? Tiap orang kuyakini memiliki pandoranya masing-masing...ada yang memilih untuk tetap membuka kotaknya..ada yang memilih untuk menyimpan dalam lemarinya hingga sewaktu-waktu bisa dibuka...ada yang memilih untuk membuangnya keperapian hingga hanya menjadi serpihan debu dan terlupakan....bagaimana dengan kotak pandoraku...aku punya beberapa...ini adalah salah satu pilihan untuk salah satu pandoraku..


teringat dulu...beberapa tahun lalu

kenangan itu sangat indah, saat itu saking indahnya hingga ukuran sakitnya pun setimpal atau bahkan lebih..kenangan indah ini memang singkat bagiku tapi sakitnya tidaklah mudah untuk dilupakan begitu saja...entah apa karena ada rasa dendam atau rasa lain yang tak terungkap...yang ku tahu pasti semua begitu saja kumasukan ke dalam pandora...tanpa perduli terselesaikan atau tidak..

ah iya...dulu...

masih jelas diingatanku...aku berjalan tergopoh-gopoh ditengah sengatan terik si raja api, panasnya aspal membakar telapak kaki yang tak beralas, sambil membawa si pandora... sebentar ke utara sebentar ke barat...lalu berputar ke timur berhenti sebentar kemudian ke selatan...mencoba bertahan kuat sambil membusungkan dada tapi sesaat kemudian tertatih...ingin kubuka apa yang sudah terbungkus rapih tapi...pikirku itu bukan keputusan tepat...hingga akhirnya kurelakan pandora yang satu ini..aku ingin menguburnya saja...tak kuat rasanya jika hanya menyimpannya dalam lemari

Kembali berjalan tergopoh-gopoh hingga langkah ini terhenti pada sebidang tanah kering...tak ada tempat lagi dan tak ada waktu lagi...aku akan membuat lubang, tapi aku tak punya sekop..aku hanya punya dua tangan dengan sepuluh jari untuk menggali...aku coba menggali....

sekali menyendok tanah sebuah goresan membuat perih..kedua kali...tiga kali...empat kali...semakin cepat ku menyendok tanah..semakin cepat goresan luka tercipta hingga tak sadar seluruh kuku jari pecah dan darahpun menetes pelan dari tiap goresan lalu membasahi inchi demi inchi kulit tanganku..perih dan hanya perih hinga pecah begitu saja seluruh emosi, amarah,teriakan, tangisan lalu sekejap pipiku pun basah oleh air mata.. nafas tersenggal, butiran keringat membasahi sekujur tubuh..tapi tetap menggali, sesekali berhenti bukan untuk istirahat atau mengaduh akan perih yang kurasa namun, untuk memukul-mukul dada seperti mencoba membangun sebuah tembok baja untuk hati....ah dadaku sesak..isi kotak ini terlalu sakit untuk dadaku...semakin kuingat isinya maka semakin perih luka dihati dan semakin ingin menikmati kucuran darah yang keluar dari kedua tangan...harus semakin cepat ku kubur...

..aku ada di titik kegilaan penuh emosi dan saat bersamaan berada di titik aku melawan semua itu...

Berhari-hari menggali hingga aku sampai pada dasar lubang dengan kedalaman puluhan meter dari permukaan tanah...lubang yang kubuat terlalu besar untuk mengubur si pandora, bahkan besarnya bisa mengubur diriku..aku tak pernah berpikir untuk bisa keluar dalam lubang..dan aku juga tak menampik pikiran jikalau aku bisa saja terkubur di dalam lubang bersama si pandora...rasanya ingin tetap menggali...entah aku seperti menikmati luka pada tanganku, alasannya mudah saja...karena luka itu bisa menutupi rasa luka lainnya yang lebih sakit...sayang saja badanku terlalu lemas untuk itu...seluruh energi sudah terkuras habis...air mata mengering meninggalkan jejak pada wajah yang penuh darah bercampur tanah....

Ini detik perpisahaan denganmu pandoraku...
ku letakan si pandora pada dasar lubang kuhias tutupnya dengan sekuntum mawar putih yang sedari awal ku kugigit hingga durinya membuat beberapa goresan di gusi....sambil berbisik pada isi pandora ...

"aku tau...aku hanya setitik debu tak pernah berarti dalam perjalananmu..waktupun tak berpihak padaku...aku tak minta kau lihat atau kau beri arti...apapun itu karena ku tak ingin memaksa kehendakmu..ku yakin kau pasti tau alasanku meletakanmu pada pandora ...tapi ketahuilah kau menjadi kenangan buatku..apa yang sudah terjadi maka hanya akan ku kenang namun, maaf mungkin akan ada kenangan yang ingin ku lupa secara permanen ataupun sementara bahkan mungkin ada kenangan yang ingin kumanipulasi...terima kasih, aku belajar banyak dari sakit yang kau berikan..aku harap pengorbananku menggali lubang ini tidak sia-sia..dan jika tuhan dengan takdirnya kembali mempertemukan maka jadikan semua tanpa sakit, semoga kamu bahagia”

Selesai berbisik...ku berdiri menatap langit biru yang jauh diatasku...saat itu seperti ada pada persimpangan jalan dengan dua pilihan...tetap di dalam lubang menanti isi pandora dengan harapan hampa atau mendaki untuk menghirup udara baru lalu mengobati seluruh luka di tanganku...sebelum aku benar-benar mati kehabisan darah.

Ah..kucoba mendaki saja...

Dengan kelelahan, sekali memijak dinding tanah si kotak pandora berteriak..aku tak mengerti apa arti teriakan itu..yang kutahu godaan sangat besar menyerangku untuk kembali menarik seluruh ucapan tadi dan bermain lagi dengan isinya...aku berusaha sekuat tenaga tidak menggubrisnya ..sambil pelan ku daki tembok tanah, setiap tergelincir jatuh ke dasar lubang maka ku kembali bangkit mendaki...begitu seterusnya selama berhari-hari...hingga aku tak sanggup lagi...dan memutuskan untuk duduk terdiam di dasar lubang sambil memandang si pandora...”aku ingin keluar dari sini Tuhan...tolong aku..dengar doaku...hilangkan rasa ingin memiliki isi pandora itu” begitu doaku dihari-hari selanjutnya...berbekal makan cacing tanah dan meminum air hujan...aku terus bertahan untuk tidak tergoda pada pandora...logikaku terus mengultimatum otak “jika dibuka kau terluka dan pengorbanan kau bisa sia-sia”

Hari berikutnya...seutas tambang menyentuh kepalaku yang masih terkantuk di dinding lubang, terdengar dari atas sana “Hei yang dibawah sana...raihlah tambangku ini..aku akan membantumu naik..jangan ragu, aku tak akan menyakitimu”...pelan sambil ragu..apa bisa kuberi kepercayaan?...berpikir sejenak lalu meraihnya...nothing to lose..pikiran sederhana saat itu yang timbul...pelan-pelan ku daki lubang dengan bantuan tambangnya...

sesampai diatas lubang..

dia tersontak kaget melihat diriku berantakan kusut lesu penuh luka, dia tak sedikitpun berkata, hanya saja mulai mengusap wajah kotorku dengan handuk bersih miliknya. Aku hanya tersenyum memberi tanda terima kasih dan lalu mulai berdiri kembali menyendok tanah dari tumpukan bekas galian dengan kedua tanganku...aku tak berharap dia membantuku...tapi..dia mengikuti gerak ku...dia juga membantuku mengubur lubang dengan menyendok tanah yang sama menggunakan kedua tangannya. Sesekali kutengok dia meringis sakit tergores kerikil tajam yang bersembunyi pada tumpukan tanah atau bergidik ngeri karena menemukan cacing pada tanah yang digenggamnya....ku pandangi tingkahnya...dari pandangan penuh curiga, penuh amarah hingga cerita barupun dimulai dengannya...sampai mengukir senyum dan tawa...

ya..pandoraku bertahun lalu...aku menguburnya dengan sakit..sebagai awal dari cerita baruku...


saat ini...pada cerita baru...
ku akui..terkadang aku mengunjungi kuburan kotak pandora itu..bahkan tak jarang berdiri disana sambil mengenang...atau bahkan menyesali yang sudah terjadi...kadang masih ada suara yang terdengar dari dalam sana..ku hanya bisa menyikapi dengan senyum..ku tahu senyumku penuh pertanyaan dan penuh usaha untuk menutupi sekelumit rasa yang kadang terbesit....
..ku sudah melanjutkan jalan yang berbeda sambil berharap takdir tidak bermain kasar ...terkuburlah tenang kotak pandora....temui aku tanpa sakit jika memang roda hidup berkata demikian...

No comments:

Post a Comment