Manusia itu punya perasaan dan akal, namun terkadang ada beberapa diantara mereka yang memakai hanya perasaan saja atau akalnya saja untuk memecahkan sebuah permasalahan.
Namun apakah aku sombong jika ingin menjadi manusia yang menjalankan perasaan dan akal dengan seimbang. Memang juga tak dipungkiri aku manusia biasa yang memiliki ego sangat jauh dari kesempurnaan. Ketika hati jatuh tersakiti maka akan ada dendam sebelum maaf.
Entah rasanya seperti munafik jika aku bilang aku tidak sakit atau aku bisa memaafkan semua tanpa bekas. Aku bukan tuhan, tapi aku ingin mencontoh Tuhan yang maha pemaaf.
Jatuh lalu bangun menerjang perih yang kurasa, mendengar sebuah hal yang tak kuharapkan dan mencoba menjalani realita yang tak sesuai dengan keinginan hati, lalu terus mengesampingkan keinginan diri sendiri.
Aku tahu ketika ego manusiaku timbul, aku merasa ingin memberontak dan merebut semua apa yang ingin kumiliki tanpa aku memikirkan bagaimana nanti, dan bagaimana dengan orang-orang disekitarku.
Entah ironis, bodoh, atau sok. Aku mencoba merangkul setiap sainganku, aku mencoba untuk tak menusuk musuhku, aku mencoba tetap memeluk setiap orang yang telah menyakiti hatiku.
Entah juga apa rencana tuhan, mengapa aku tidak bisa menjadi yang tidak seperti ini. Hanya sebuah pengharapan kecil untuk jalanku, semoga sakitku hanya akan menjadikanku lebih kuat tetapi tak menjadikanku terus melemah.
tetaplah jaga sifat dan sikapmu yang sekarang, menjadi manusia yang mengorbankan perasaannya demi perasaan orang lain adalah hal yang sulit, dan tidak semua orang bisa melakukannya, hanya segelintir orang, dan kamu adalah bagian dari segelintir orang itu, aku saja bangga padamu.
ReplyDelete