Akhirnya setelah sangat lama aku tidak menulis dengan tenang, aku bisa perlahan juga menarikan jemariku diatas notebook mungil ini.
Ini bulan ke lima ku ada di Bandung, berbagai macam hal telah terlewati, dari mulai tawa, canda, cinta, airmata, luka hingga darah.
Besok aku akan mengawali hari-hari penentuan semester pertamaku. Entah apa rasa percaya diriku yang sempat menghilang karena peristiwa tiga bulan lalu itu akan kunjung kembali, ataukah aku akan menggantungkan semua pada dewa keberuntungan yang mungkin saja menghampiriku.
Tiga bulan sudah, sejak saat itu, sejak aku terjatuh dan lalu terpuruk pada kesedihan mendalam. Tiga bulan sudah, perlahan aku kehilangan diriku. Namun, sekarang perlahanpun aku bangkit karena menemukan beberapa jawaban yang dulu aku pertanyakan. Perlahanpun aku terbangun tanpa menghiraukan uluran tangan siapapun. Perlahanpun aku bisa ikhlas menelan pil pahit yang membuatku menjadi lebih kuat dan dingin tapi, menjadi lebih dewasa dalam menyikapi masalah (semoga). Perlahan aku merangkak dengan tanganku sendiri.
Entah, entah apa yang Tuhan rencanakan lagi padaku. Dalam dua bulan keadaanpun berbalik, kebenaran terungkap. Sekarang apa aku harus membuang yang lama atau tetap menyimpannya. Entah, atau aku akan menjalaninya seperti air yang mengalir.
Ku kan awali lagi sebuah hidup baru dengan hiasan lama pada jalan hidupku yang berwarna, dengan diri yang baru. Dengan diri yang lama tak mengepakkan sayap, dan mulai belajar terbang.
Lihatlah aku yang baru, lihatlah jemariku berdansa diantara huruf-huruf ini, lihatlah pikiranku terbang melayang melewati batas awan dan berdiri ditengah antara garis khayal dan logika.
Aku dengan hati yang tak tersentuh, sebuah awal cerita baru dengan perhiasaan lama yang baru dibersihkan dari kotak pandoraku serta aksesoris baru yang tak terharapkan ada.
No comments:
Post a Comment